Mengapa perusahaan perlu pembukuan secara akunting?

Akunting adalah sistim pencatatan atas setiap transaksi sehari hari yang terjadi pada sebuah perusahaan/institusi yang menyebabkan terjadinya perubahan kondisi keuangan perusahaan/institusi tersebut.

Prinsip Standar Akuntansi Indonesia (PSAK)

Sistim pencatatan akunting dilakukan berdasarkan  prinsip-prinsip tertentu yang lazimnya  mengikuti ketentuan-ketentuan sesuai standar akuntansi indonesia, yang biasa disebut Prinsip Standar Akuntansi Indonesia (PSAK). PSAK disusun oleh tim akuntansi yang anggotanya ditentukan oleh asosiasi akuntan indonesia. Sebelumnya PSAK  disusun dengan mengacu pada sistim pembukuan internasional yang disebut GAAP (General Accepted Accounting Principles) dari Amerika, dengan beberapa penyesuaian atas keadaan usaha yang berlaku umum di Indonesia, termasuk peraturan-peraturan pemerintah terkait.

Sejak awal tahun 2010, PSAK mulai mengacu pada standar sistim pembukuan dari Eropa, yang disebut IFRS atau International Financial and Reporting Standard yang secara internasional sekarang sudah lebih banyak diterapkan karena dianggap lebih mampu mencerminkan nilai wajar pasar atas suatu perusahaan/institusi.

Pembukuan secara GAAP dianggap lebih banyak menekankan pada nilai-nilai historis perusahaan/institusi dan bukan potensi masa depan perusahaan sebagaimana yang dapat dicerminkan dengan menggunakan sistim IFRS.

Pembukuan secara akunting penting dilakukan perusahaan agar laporan keuangan perusahaan dapat lebih mudah dimengerti oleh para pembaca laporan keuangan diluar perusahaan, yang memiliki kepentingan atas perusahaan. Misalnya, pihak perbankan, para penanam modal, para pemasok atau pembeli/pelanggan.

Dengan menggunakan PSAK, sistim pembukuan perusahaan akan menggunakan istilah-istilah, konsep dan metode-metode pencatatan yang sama dengan perusahaan lainnya atau dengan perusahaan sejenis, dalam memberikan gambaran kepada pembaca umum mengenai kondisi keuangan dan kinerja perusahaan melalui laporan keuangannya. Dengan demikian, pembaca umum akan dengan mudah memahami dan membandingkan perusahaan dengan perusahaan lainnya/sejenis.

Basis Akrual

Salah satu prinsip pembukuan secara akunting adalah menggunakan basis akrual yang bertujuan untuk mendapatkan hasil kinerja yang cocok dan akurat antara pendapatan yang diperoleh perusahaan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh pendapatan tersebut, dalam satu kurun waktu tertentu. Prinsip kecocokan antara pendapatan dan biaya ini biasa disebut Matching Cost and Revenue.

Biaya Penyusutan atau Depresiasi

Ada beberapa jenis biaya yang timbul sebagai akibat penggunaan basis akrual ini, yang juga biasa disebut biaya biaya ekonomis, yaitu biaya-biaya yang pada dasarnya tidak melibatkan adanya pengeluaran uang tetapi biaya yang diasumsikan menjadi timbul dan harus diperhitungkan, karena berkurangnya manfaat ekonomis dari harta perusahaan yang telah digunakan untuk memperoleh pendapatan.. Salah satunya adalah biaya penyusutan yang terdiri dari biaya penyusutan atas harta yang berwujud atau biasa disebut biaya depresiasi dan biaya penyusutan atas harta yang tidak berwujud atau biasa disebut biaya amortisasi.

Piutang dan Hutang

Dampak lain dari penggunaan basis akrual ini adalah pencatatan piutang dan hutang. Pencatatan piutang dilakukan berdasarkan dokumen tagihan perusahaan kepada perusahaan lain, termasuk berdasarkan dokumen penerimaan barang/jasa yang telah diberikan perusahaan kepada pelanggan, sebagai bukti bahwa perusahaan telah berhak mencatat pendapatan atas barang/jasa tersebut. Pencatatan hutang jika didasarkan pada dokumen tagihan yang telah diterima perusahaan dan/atau dokumen tanda penerimaan barang/jasa dari para pemasok, sebagai bukti bahwa perusahaan telah memiliki kewajiban kepada pemasok.