Ideapreneur

Menjelang akhir tahun, banyak sekali wartawan yang bertanya kepada saya tentang prospek bisnis tahun depan. Terutama tentang jenis-jenis bisnis unggulan. Pertanyaan ini menggelitik saya. Tak lama kemudian, seorang teman mengirim email kepada saya. Ia kebetulan orang Indonesia yang sudah pindah ke Eropa lebih dari 10 tahun. Dalam emailnya ia sempat melucu, katanya setelah lama tidak mudik ke Indonesia, ia menemukan banyak sekali hal-hal yang ia sebut dengan istilah “kombinasi ekonomi gaya baru”. Ini observasi yang menarik memang.

Pengasong di Bandara

Misalnya saja, ketika turun di airport Cengkareng ia dihampiri sejumlah pengasong intelek, yang menawarkan produk-produk palsu seperti jam tangan dan pen. Ia sempat terbahak, karena belum pernah ia mengalami hal serupa di negara lain. Kalau dipikir memang entah siapa dulu yang memulai kegiatan seperti itu, atau punya ide gila yang asli seperti itu. Tapi rupanya ide ini lumayan hasilnya, sehingga menyebar kemana-mana, dan yang berjualan seperti itu di airport cukup banyak juga.

Pengasong di Kemacetan

Sumber Foto: Detik.com

Dalam perjalanan pulang ke Cinere, ia dan keluarganya sempat terperangkap dalam kemacetan lalu lintas yang sangat padat, yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Observasi nakalnya sempat menangkap ulah para pedagang asongan. Setelah pengamatan yang sekian kali, ia berkesimpulan bahwa tukang asongan ini, dagangannya juga berbeda-beda. Di tempat-tempat yang macetnya cukup parah, menurut observasinya banyak tukang asongan yang membawa makanan camilan, seperti kacang dan malah mangga muda. Disini tukang asongan sdh bisa membaca kebutuhan pasar, dimana para supir mencari kesempatan membunuh rasa bosan-nya ditengah kemacetan.

Lain lagi dengan dagangan para asongan di sepanjang jalan pantai utara, karena beda lagi jenis dagangan-nya. Banyak diantara mereka yang menjual kombinasi botol air mineral yang ditempeli sachet minuman enerji. Rupanya pedagang asongan disini sudah bisa pula membaca kebutuhan lain para supir yang ingin menghilangkan rasa kantuknya.

Pengasong di Tempat Pelesir

Giliran akhir minggu, teman saya ini pelesir ke Puncak Cipanas. Disepanjang jalan ia melihat anak-anak muda, mengacung-acungkan papan nama dengan tulisan „villa“. Sempat ia bingung, tapi akhirnya ia tergelak ketika mengetahui bahwa anak-anak muda itu adalah „broker“ yang menawarkan penyewaan villa-villa disekitar puncak. Biarpun caranya sangat primitif, teman saya ini sempat kagum malah. Ada-ada saja akal-nya.

Ketika berlibur di Bandung, lagi-lagi teman saya terheran-heran, ketika sejumlah anak muda, menjual asongan sekuntum bunga yang dibungkus plastik. Padahal ini bukan musim Valentine. Apakah anak-anak muda ini, mengambil peluang dan ide nostalgia, bahwa dulunya Bandung disebut kota Kembang ? Dan sejumlah anak-anak muda ini mencoba kreatif memanfaatkan sejarah dan menjualnya kepada turis ?

Puncak kekaguman teman saya ini, terjadi ketika mereka berlibur ke Bali. Di pantai Kuta, anda bisa menemukan penjual asongan dalam segala bentuk. Mulai dari asongan suvenir, sampai kepada asongan pijat, asongan stiker tatoo hingga asongan untuk membuat rambut anda terpilin-pilin bergaya Jamaica seperti penyanyi Bob Marley.

Kesimpulan

Jadi kesimpulan observasi teman saya, bisnis cuma memerlukan ide. Selebihnya adalah kemauan dan kreatifitas menjual. Ini yang sering disebut sebagai „ideapreneur“ yaitu generasi entrepener yang bermodalkan ide. Dan bukti nyatanya memang ditemukan teman saya hampir disetiap sudut kehidupan dan perempatan jalan. Kemanapun kita pergi, disekeliling kita dipenuhi dengan „ideapreneur“. Jangan tertawa kalau cara mereka primitif dan seadanya. Minimal mereka bisa berusaha dengan modal dengkul.